Wednesday, May 16, 2012

Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100

Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 - Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor sebenarnya masih meninggalkan beberapa kejanggalan. Mengapa pesawat secanggih itu bisa sampai menabrak gunung. Beberapa ahli sempat menyampaikan pendapatnya tentang kecelakaan ini.

Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100

Di bawah ini adalah analisa Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang disampaikan oleh Sukamto, Safety Manager PT Sky Aviation, perusahaan yang sebelumnya tertarik membeli Sukhoi Superjet itu.Berikut adalah beberapa Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang disampaikan oleh Sukamto yang dikutip dari kompas.com:

1. Pilot pesawat Sukhoi Superjet 100 sempat meminta izin Air Traffic Control (ATC) untuk menurunkan pesawatnya dari 10.000 kaki ke 6.000 kaki di atas kawasan udara Atang Sanjaya. Tak lama setelah itu, komunikasi terputus dan ternyata pesawat justru menabrak tebing Gunung Salak, Bogor.

2. Alasan menurunkan pesawat masih belum jelas. Kalau alasannya karena ada awan di depan, seharusnya lebih aman kalau pesawat itu naik ke atas dan bukannya turun karena itu 'kawasan pegunungan jadi bahaya kalau ada benturan.

3. Pesawat secanggih Sukhoi Superjet juga seharusnya mampu melewati turbulance yang timbul jika pilot tetap melaju melintasi awan. Selama sistem navigasinya mumpuni, seharusnya pesawat bisa lewat awan itu. Kenapa pilot memutuskan turun sampai 4.000 kaki padahal itu beresiko.

4. Kenapa pihak ATC memberi izin pesawat untuk turun ke 6.000 kaki. Jika alasan ATC karena pilot meminta turun saat di atas landasan Atang Sanjaya yang merupakan kawasan yang aman, maka ada hal janggal lainnya yang timbul. Pasalnya, pesawat tersebut justru mengarah ke lereng Gunung Salak, dan ada kemungkinan terbang rendah di kawasan tersebut.

5. Kalau pesawat komersil biasa, prosedur turun 10.000 ke 6.600 belok kiri di Atang Sanjaya, lalu belok kiri lagi dari 6.000 ke 2.500 masuk ke Halim. Kenapa pesawat justru belok ke kanan, bukan ke kiri, walaupun bila dalam kondisi joyflight tidak ada aturan apa pun.

6. Dugaan adanya manuver yang dilakukan sang pilot pun muncul. Namun, dalam aturan joy flight pesawat penerbangan sipil, manuver tidak bisa dilakukan secara ekstrem.

7. Sistem navigasi dan peringatan dini yang dimiliki pesawat seperti theater airborne warning system (TAWS) juga seharusnya bekerja memberikan informasi ke pilot. TAWS adalah perangkat peringatan dini pada pesawat mengenai rintangan di luar. Kalau ada lereng atau tebing di sekitar pesawat berkilo-kilometer sebelumnya, TAWS akan keluarkan bunyi tanda peringatan ke pilot. Harusnya alat ini bekerja apalagi dengan pesawat secanggih Sukhoi, pasti ada jarak yang cukup jauh sehingga TAWS ini akan berbunyi lebih cepat.
Nah, bagaimana menurut Anda tentang Kejanggalan Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100? Sekarang kita harus menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui hasil yang pasti tetang penyebab Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi.

No comments:

Post a Comment